| Selasa, 25 Oktober 2011 01:44 |
DPRP Soal Pembubaran Kongres yang Berbuntut Jatuhnya KorbanJAYAPURA- Dewan Perwkilan Rakyar Papua (DPRP) meminta Kapolda Papua dan Pangdam XVII Cenderawasih, bertanggung jawab atas jatuhnya sejumlah korban jiwa, saat pembubaran Kongres Rakyat Papua 3, Rabu lalu. ‘’Tindakan aparat keamanan dalam pembubaran kongres rakyat Papua sudah melampaui batas, kewenangan mereka dan jelas melanggar aturan dan UU, karena menimbulkan jatuhnya korban. sehingga komandan tertinggi dan pengendali aparat di lapangan yakni Kapolda dan Pangdam harus bertanggung jawab dengan jatuhnya korban tersebut,’’tegas Yan Mandenas Ketua Fraksi Pikiran Rakyat DPR Papua,’’Senin 24 Oktober di ruang kerjanya. Lanjutnya, aparat melampaui kewenangan karena memukuli dan menembak warga, padahal warga yang ada di sekitar lokasi belum tentu semua terlibat dan ikut kongres. ‘’Kalau memang ada tindakan makar, ya tangkap dalang dan aktornya, jangan malah memukuli dan menembaki warga. Kan tidak semua warga yang menjadi korban ikut kongres, ini malah main babat, seperti tak terkendali, ini pelanggaran HAM dan harus diusut tuntas,’’tandasnya. |
26/10/11
Kapolda dan Pangdam Diminta Bertanggung Jawab
18/10/11
Ratusan Warga Papua Padati Konggres
JUBI --- Sekitar lima ratusan warga Papua memadati lapangan sepak bola Zakheus, tepatnya dibelakang SMP Negeri Paulus, Padang Bulan, Abepura, Jayapura, Papua, Senin (17/10). Lapangan Zakheus merupakan tempat pegelaran Konggres Rakyat Papua (KRP) III. Ratusan peserta itu datang dari berbagai pelosok Papua.
TNI Gagal Melindungi Dan Menjaga Integritas Manusia Di Tanah Papua
Pada media lokal Cenderawasih Pos, Rabu, 05 Oktober 2011, Saudara Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Erfi Triassunu dengan bangga menyatakan: “ Tugas pokok yang kami emban adalah menegakkan kedaulatan Negara, mempertahankan keutuhan wilayah NKRI, dan melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan Negara.
10/09/11
Munir: Tidak Akan Pernah Terlupakan (Dia itu Pahlawan Sejati)
“KehinlanganMu Adalah Kehilangan Kemanusiaan”
Munir Pahlawan Ham
Siapa pun agapan bahwa setiap masyarakat, budaya, atau Negara - bangsa membutuhkan pahlawan sebagai simbol sekaligus wahana untuk mengukuhkan suatu sejarah yang dapat diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Pengukuhan sejarah tersebut tentu didasari oleh bermacam-macam preferensi dan kesepakatan kolektif yang terbentuk oleh kepentingan yang bermacam-macam pula.
Mulai zaman kesukuan (tribalisme), kerajaan, sampai zaman ke-negaraan mutakhir, ternyata pahlawan diciptakan cenderung untuk mengukuhkan sejarah versi kaum yang berkuasa. Pahlawan dan klaim-klaim kepahlawanan adalah hasil ciptaan kelompok yang dominan berupa sekumpulan kisah personal tentang penaklukan demi penaklukan, hikayat perihal “kemenangan” kolektif yang dipersonifikasikan pada kekuatan moral seorang individu yang visioner dan seolah-olah mengatasi sejarah.
09/09/11
Bersama Solidaritas Keluarga 17 Korban, Deadline Polda
Dengan beranggotakan 118 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), terdapat tujuh kelompok issu di Papua dan Papua Barat yang menjadi fokus Foker LSM Papua. Hal itu dilakukan dengan mengembangkan simpul-simpul region.
Berikut Laporan : Ahmad JainuriSimpul-simpul region tersebut adalah pembagian wilayah Papua dan Papua Barat menjadi lima region (wilayah), yakni region utara, teluk cenderawasih, kepala burung, selatan dan region pegunungan tengah. Tujuh issu yang kemudian diadvokasi dengan pembentukan Kelompok Kerja (Pokja), yakni Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA); Perempuan dan Anak serta Gender; kesehatan, HIV dan AIDS; tata pemerintahan; hukum dan HAM; masyarakat adat; dan Unit Rescue Emmision From Degradation dan Deforestation.
“Dan saya sebagai Sekretris Eksekutif, itu memang diamanatkan untuk menjalankan isu-isu strategis ini menjadi penting,” jelas Sekretaris Eksekutif Foker LSM Papua, Septer Manufandu.
“Dan saya sebagai Sekretris Eksekutif, itu memang diamanatkan untuk menjalankan isu-isu strategis ini menjadi penting,” jelas Sekretaris Eksekutif Foker LSM Papua, Septer Manufandu.
Membuka Ruang Komunikasi yang Lebih Strategis
Foker LSM Papua di Usia ke – 20 (bagian-1)
Forum Kerjasama Lembaga Swadaya Masyarakat (Foker LSM) Papua yang berdiri sejak tahun 1989 dan di Hari Jadinya yang ke 20, tanggal 31 Agustus lalu, memiliki kantor baru yang lebih luas dan lebih representative. Bagaimana tentang program kerjanya?
Laporan Ahmad JainuriAkankah Papua Barat “HARUS” dibahas oleh Komite Dekolonisasi Majelis Umum PBB
Papua Barat “HARUS” dibahas oleh Komite Dekolonisasi Majelis Umum PBB (Stecmen Ban Ki-Moon)
Langganan:
Postingan (Atom)